Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin
January 29, 2009
Kanker serviks merupakan kanker yang paling sering terjadi pada perempuan di Tanah Air. Setiap perempuan tanpa memandang usia dan latar belakang berisiko terkena kanker serviks yang disebabkan infeksi atau reinfeksi virus Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18 yang secara bersama mewakili 71 persen penyebab utama kanker itu. Padahal, jenis kanker ini sebenarnya bisa dicegah.
“Kami turut prihatin dengan tingginya angka kejadian kanker serviks di Indonesia, terutama karena penyakit ini merupakan beban kesehatan, ekonomi, dan sosial bagi perempuan di mana pun,” kata Ketua Bidang Pelayanan Sosial Yayasan Kanker Indonesia dr Melissa S Luwia di Jakarta.
Ketua Bidang Penyuluhan dan Pendidikan Yayasan Kanker Indonesia dr Sumarjati Arjoso menambahkan, penyuluhan mengenai bahaya kanker serviks dan pencegahannya perlu digalakkan agar lebih banyak perempuan Indonesia memperoleh kesempatan untuk mendapat informasi tentang deteksi dini dan pencegahan kanker serviks. “Peran survivor kanker serviks dapat memberi dukungan dan informasi akan membantu pasien kanker serviks meringankan bebannya,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (Hogi) Prof Farid Aziz menjelaskan, kanker serviks adalah salah satu penyakit kanker yang dapat dicegah. Namun, lebih dari 70 persen penderita datang memeriksakan diri dalam stadium lanjut sehingga banyak menyebabkan kematian karena terlambat ditemukan dan diobati.
“Kami mengimbau kepada para perempuan untuk melakukan pencegahan sejak dini. Deteksi dini dengan tes Pap yang dipraktikkan di negara maju menunjukkan hasil sangat memuaskan dengan menurunkan angka kematian karena kanker serviks lebih dari separuhnya,” ujarnya. Kendala di negara sedang berkembang adalah deteksi dini dan vaksinasi relatif mahal dan memerlukan biaya tinggi, tenaga ahli, dan pengorganisasian yang tidak rapih.
Karena itu, di negara yang sedang berkembang harus dipilih cara yang lebih praktis dan murah, yaitu IVA atau inspeksi visual dengan asam asetat sebagai pengganti tes Pap. Yang lebih praktis lagi kalau kendala biaya bisa diatasi adalah dengan vaksinasi. “Cara ini sangat praktis karena cukup dengan suntikan, tidak memerlukan perlengkapan yang rumit dan memiliki efektivitas tinggi,” kata Farid.
Prof Samsuridjal Djauzi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo menyatakan, tidak seperti sejumlah virus lain, jika seorang perempuan terinfeksi virus HPV, bukan berarti perempuan itu akan mempunyai kekebalan terhadap virus itu. “Dia tetap berisiko untuk mendapatkan infeksi berulang dari tipe HPV yang sama atau berbeda, dan tetap berisiko terkena kanker serviks,” ujarnya.
“Vaksin kanker serviks bekerja dengan meningkatkan kekebalan tubuh untuk dapat melindungi dari infeksi atau re-infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks,” kata Samsuridjal. Dari studi klinis terkini, vaksin kanker serviks adjuvant dapat memberi perlindungan yang luas untuk tipe HPV penyebab kanker dengan masa proteksi paling lama dan harga terjangkau bagi lebih banyak perempuan.
[taken fr kompas.com]
Entry Filed under: Healthy. Tags: kanker leher rahim, kanker serviks, vaksin kanker serviks, virus hpv.
8 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed









1.
Edi Psw | February 4, 2009 at 12:12 am
Wah, informasinya sangat menarik nih.
Salam kenal.
2.
kmelina | February 4, 2009 at 8:48 pm
Salam kenal juga,…
3.
Line | February 16, 2009 at 3:14 pm
mau tanya, kalo sudah menikah, umur 28thn, masih bisa divaksin ? vaksin nya masih efektif nda ?
4.
kmelina | February 16, 2009 at 8:33 pm
mba’ Line, mungkin kutipan di bawah ini bisa menjawab :
Di beberapa negara vaksin kanker serviks direkomendasikan untuk diberikan mulai usia 11 sampai 12 tahun, meskipun mungkin diberikan lebih awal lagi yaitu pada usia 9 tahun. Di Indonesia sendiri rekomendasi masih digodok oleh Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia bersama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia. Bocorannya, kemungkinan mereka akan menganjurkan sejak usia 10 tahun sampai dengan 55 tahun. Vaksinasi pada masa kanak-kanak sebenarnya justru menghasilkan respons antibodi yang lebih baik. Makin tinggi level antibodi makin besar pula proteksinya.
Vaksin diberikan secara serial 3 kali selama 6 bulan. Di pasar saat ini ada 2 vaksin dari 2 produsen yang berbeda, mereka adalah cervarix dan gardasil. Keduanya mempunyai penjadwalan suntik vaksin agak berbeda. Pada cervarix vaksinasi kedua diberikan satu bulan sesudah vaksinasi pertama, sedangkan pada gardasil diberikan setelah 2 bulan sejak vaksinasi pertama. Vaksinasi ketiga pada kedua produk sama-sama diberikan 6 bulan setelah vaksinasi pertama.
Dalam penelitian klinik, vaksin ini efektif untuk grup wanita yang aktif secara seksual kelompok usia 26 tahun atau lebih muda, dimana beberapa wanita dalam penelitian ini juga telah terinfeksi oleh satu atau beberapa tipe HPV, tapi jangan salah interpretasi vaksin ini hanya melindungi wanita terhadap HPV tipe 16 dan 18 saja sebagai penyebab kanker (cervarix dan gardasil) dan tipe 6 dan 11 saja sebagai penyebab penyakit hubungan seksual atau penyakit kelamin (gardasil saja). Jadi bila belum terinfeksi oleh tipe-tipe HPV yang diproteksi oleh vaksin HPV, vaksin ini efektif. Makin banyak pasangan seks yang dimiliki maka kemungkinan terpapar terhadap berbagai tipe HPV lebih besar kemungkinannya – termasuk juga HPV tipe 6, 11, 16 dan 18.
tapi , sebaiknya secepatnya konsultasi ke dokter untuk tahu lebih lanjut tentang kanker servik dan juga vaksinasinya … semoga membantu ya
5.
ven | June 5, 2009 at 2:16 pm
mau nanya nih..
lama proteksi vaksin ini berapa lama yaa? ada yg bilang 5 taun, ada yg blg 20taun, saya jadi bingung…
terus, booster-nya suda ada? stlh booster proteksi seumur hidup kah? thanks a lot
6.
evi lesnawati | June 9, 2009 at 3:46 pm
mau tanya dong..
usia saya 25 th (blm menikah) ibu saya sudah positif terkena kanker serviks & telah meninggal dunia 13 feb’09.pertanyaan saya :
1. apakah saya mempunyai resiko yg lebih besar utk terkena kanker serviks jg ?
2. apakah saya perlu melalukan tes pap smear segera mungkin?
3. apakah saya hrs vaksin CERVARIX / GARDASIL & dimanakah saya bisa dapatkan vaksin tsb & berapakah harga’y ?
thanks a lot
7.
kmelina | June 9, 2009 at 10:43 pm
mba’ Evi,
Sepengetahuan saya, kanker serviks bukanlah penyakit keturunan, tapi setiap wanita mempunyai resiko untuk mengidap kanker ini, yang disebabkan oleh virus. Dan memang sebaiknya, setiap tahun kita harus melakukan pap smear, apa lagi bagi wanita yang sudah pernah melakukan aktivitas seksual.
Jika mba’ Evi ingin mengetahui lebih lanjut detail tentang kanker ini, cara pencegahan dan juga vaksinasinya, sebaiknya mba’ Evi berkonsultasi ke dokter kandungan.. di setiap rumah sakit besar, saya kira sudah menyediakan fasilitas ini, harga pap smear + vaksinasi berkisar antara 1-2 juta … sedikit mahal, tapi merupakan investasi masa depan bagi setiap wanita
8.
Yudi | August 24, 2009 at 1:24 pm
Boleh nanya kan…
Istri saya sedang hamil 5 minggu, sudah terlanjur disuntik Cervarik. Pertanyaannya… adakah pengaruhnya bagi janin yg dikandungnya? Kata dokternya gpp, tp sy mash ragu2, perlu second opinion. Terima kasih…