Dedi, pembiak kerapu tikus

Mendapatkan produk yang prospektif untuk berbisnis jarang diperoleh setiap saat. Maka, ketika peluang itu datang, jangan sampai dibiarkan lewat begitu saja tanpa dimanfaatkan secara optimal. Ambillah peluang itu kemudian kelola dengan tekun dan profesional. Sebab, keuntungan sekecil apa pun sudah pasti diraih.

Itulah prinsip Dedi Yusrifan (36). Warga Tanjung Pandan, Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung itu kini sukses melakukan pembiakan ikan kerapu tikus. Usaha yang ditekuni sejak tahun 2007 tersebut telah berhasil memenuhi sebagian kebutuhan pembudidaya ikan kerapu di Pulau Belitung dan pulau-pulau kecil sekitarnya.

Saat dijual, bibit ikan kerapu tikus itu berukuran rata-rata 5-7 sentimeter. Harga setiap ekor Rp 2.000 per sentimeter. Ikan ini dibeli para pembudidaya setempat. Bagi yang usahanya berkala besar membutuhkan minimal 3.000 ekor per bulan, sedangkan pembudidaya kecil umumnya membeli bibit kerapu tikus sekitar 1.000 ekor per bulan.

”Kebutuhan bibit kerapu tikus di Belitung cukup tinggi, sekitar 20.000 ekor per bulan. Sekitar 15.000 ekor di antaranya dibeli pembudidaya keramba jaring apung (KJA) skala besar, dan 5.000 ekor dibeli pembudidaya KJA kecil. Tetapi, saya baru mampu memenuhi sekitar 5.000 ekor per bulan. Jadi, potensi pasar khusus bibit ikan kerapu tikus masih sangat besar,” kata Dedi.

Pilihan menekuni usaha pembiakan ikan kerapu tikus tidak terlepas dari potensi pasar. Ikan ini paling dicari pembudidaya dan kalangan eksportir maupun importir. Jika dibudidayakan hingga beratnya sekitar 800 gram, harganya saat ekspor mencapai 50 dollar AS per kilogram. Permintaan pun tanpa batas.

”Itulah yang mendorong saya untuk lebih memfokuskan diri pada pembiakan ikan kerapu tikus. Lagi pula, pasar yang tanpa batas itu takkan terpenuhi para pembudidaya kalau tanpa didukung penyediaan bibit yang banyak dan berkualitas,” kata ayah dua anak tersebut. Dedi menjadi satu-satunya usahawan swasta yang mendirikan usaha pembiakan ikan kerapu di Belitung.

Melawan arus

Menekuni bisnis ini, Dedi sesungguhnya melawan arus sebab dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal perikanan. Ia seorang sarjana ekonomi. Namun, ilmu ekonomi yang telah dipelajari membuat dirinya lebih kreatif serta jeli dalam melihat dan menangkap peluang bisnis.

Keberanian itu juga didukung segudang pengalaman yang pernah dialami pada awal tahun 1990-an di Belitung. Ketika itu, sejumlah warga setempat—termasuk keluarganya—mulai membudidayakan ikan kerapu pada keramba jaring apung berskala kecil. Setelah besar, ikan tersebut langsung dibeli para pengumpul dan eksportir.

Ikan yang dibudidayakan ditangkap dari laut, kemudian dibesarkan selama beberapa bulan, dan langsung dibeli pengumpul. Tetapi, jumlah ikan kerapu hidup yang ditangkap nelayan setiap hari selalu terbatas. Padahal, permintaan dari para eksportir terus meningkat setiap tahun.

Itu sebabnya, menurut Dedi, harus dibangun usaha pembiakan ikan kerapu di Belitung agar para pembudidaya setempat memiliki pilihan lain dalam mendapatkan bibit. Apalagi, usaha pembiakan sudah berkembang di sejumlah daerah, seperti Lampung, Bali, dan Ambon, sehingga dapat dipelajari.

Maka, pada 2007, dia memulai usaha pembiakan ikan kerapu tikus dengan modal Rp 50 juta. Dibantu seorang kerabatnya, dia membangun beberapa bak untuk menampung air laut yang menjadi tempat penetasan telur ikan serta pemeliharaan.

Dia juga mendatangkan telur ikan kerapu tikus dari Lampung. Air laut yang diisi dalam bak-bak itu dialirkan dari laut yang letaknya hanya 300 meter dari tempat usaha. Proses penetasan telur dilakukan sendiri oleh Dedi.

Setelah berjalan beberapa bulan, usaha ini gagal total. ”Tadinya saya berpikir, usaha ini tidak sulit sehingga bisa dikerjakan sendiri. Ternyata, prosesnya membutuhkan keahlian khusus sehingga kami gagal total,” kata Dedi.

Mengingat tekadnya sudah bulat, dia tidak patah arang. Di mata dia, kegagalan itu karena tak didukung sumber daya manusia (SDM) yang andal. Dedi kemudian mengajak saudaranya, Andik Setiawan (32), alumnus diploma 3 dari Akademi Perikanan Sidoarjo, Jawa Timur, untuk secara khusus menangani proses penetasan dan perawatan bibit.

Pilihan ini sangat tepat. Berkat tangan dingin Dedi dan Andik, usaha itu mulai memberikan hasil. Pada pertengahan tahun 2008, sekitar 6.000 bibit ikan kerapu tikus hasil pembiakannya dibeli para pembudidaya di Belitung.

Risiko kegagalan

Bersamaan dengan keberhasilan ini, Dedi pun mulai melakukan pembenahan. Sejumlah bak dibangun lagi sehingga menjadi 4 bak penetasan, 12 bak pendederan, 10 bak untuk fitoplankton dan 4 bak khusus zooplankton. Bak-bak itu memiliki ukuran bervariasi berkisar 4 meter persegi hingga 4 meter persegi dengan ketinggian rata-rata 1 meter.

Selain itu, dia juga tak lagi mendatangkan telur ikan kerapu tikus dari Lampung, tetapi dari Ambon dengan harga Rp 12 per butir. ”Kami memiliki agen khusus yang menyuplai telur ikan kerapu tikus sehingga kebutuhan setiap saat selalu terpenuhi dan langsung dikirim ke Belitung,” ungkapnya.

Begitu telur ikan itu tiba di tempat usaha, langsung dimasukkan ke bak penetasan. Ke dalam bak itu sudah dimasukkan pakan awal berupa fitoplankton dan zooplankton. Selang 18-20 jam, telur tersebut menetas. Ikan-ikan itu akan tetap dipelihara dalam bak penetasan selama 45-50 hari lalu dipindahkan ke bak pendederan. Setelah dua bulan dipelihara, bibit ikan itu sudah layak dipasarkan.

Risiko kegagalan dalam proses penetasan tergolong tinggi. Dari 300.000 butir telur yang dimasukkan ke dalam bak penetasan, hanya sekitar 5 persen yang menjadi benih. ”Makanya, bisnis ini memang prospektif, tetapi memiliki risiko kegagalan yang besar. Di sinilah dibutuhkan kesabaran dan semangat untuk terus belajar sehingga berbagai kendala bisa teratasi,” ujar Dedi.

Bagi Dedi, masyarakat Belitung sesungguhnya memiliki ambisi untuk maju melalui usaha budidaya perikanan. Semangat itu sudah tampak sejak beberapa tahun silam. Namun, kendala yang dihadapi adalah keterbatasan modal. Kalangan perbankan dan pemerintah perlu lebih serius memberikan sokongan agar masyarakat kecil pun memiliki kesempatan mengembangkan usahanya.

by kompas.com

About these ads
    • Arief Wijaya
    • May 29th, 2010

    Sangat tertarik…Mohon dikirimkan No.Hp atau alamat email pak Dedi Yusrifan, Agar Nelayan di Sulsel juga bisa dibantu..TrimS

    • Daniel
    • November 8th, 2010

    wah saya juga tertarik mau berinvestasi, bisa minta alamat dan nomor telpnya

  1. Mantab …
    Lulusan sarjana ekonomi tapi bisa menekuni dan sukses di bidang perikanan … Ilmu perikanan adalah ilmu terapan jadi mudah untuk dilakukan, asal adan keinginan yang kuat dan ulet …

    • AJI
    • February 3rd, 2011

    tertarik usaha itu.bisa minta no hpnya

    • Iwa
    • February 17th, 2011

    mas dedi boleh juga but suplay pasar jakarta ane siap jadi suplayer di DKI JKT,sarat & ketentuanya mohon diinfokan ,,,trmksh

    • fadlin
    • June 22nd, 2011

    saya berminat proses untuk pembiakan penetasan telur ikan kerapu oleh pak Dedi Yusrifan,

    boleh ker pak Dedi Yusrifan tunjuk ajar kepada saya.

    saya dr malayisa

  2. mas dedi, boleh saya minta no hp yg bs di hubungi tks…
    tolong di email ke saya : hanzch@yahoo.com

    • Ferry
    • December 2nd, 2011

    Salam kenal pak Den sya dri NTT Kupang boleh saya minta alamat bpk,no hp yg bsa di hub,dan email bpk ?
    From : ferrynendissa@yahoo.co.id
    Hp : 081236154222

    • amar
    • February 4th, 2012

    bru mulai usaha kerapu kja d pulau seribu jkrta, bru mao nuai hasil eh jaring ku jebol, entah predator entah modus :-(

    • amar
    • February 4th, 2012

    saya udah mulai usaha kerapu kja, wlau kecil2an, bleh saya tau cra pmbiakan zoo n fitoplankton buat pakan larva kerapu kah??

    • amar
    • February 4th, 2012

    iwa, bleh jg tuh, anda jkrta mana?? pasar ny kmana az??

    • roby
    • February 9th, 2012

    mas dedi, boleh saya minta no hp yg bs di hubungi tks…
    tolong di email ke saya di roby_jap@yahoo.com

  3. certainly like your web-site but you need to check
    the spelling on several of your posts. Several of them are rife with spelling issues and I find it very
    troublesome to inform the reality then again I will surely come back again.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 71 other followers

%d bloggers like this: